Bermula dari kelas 3 SD, seorang anak laki-laki yang polos berusaha mencapai angan itu. berusaha dengan giatnya. denga tekun, dia selalu berdoa dalah gelap terang lampu 5 W. ya hanya lampu 5 W saja yang menemani nya. orang tua masih ada. Bapak adalah seorang pengrajin kayu, walaupun pengrajin kayu tapi ya rumah sendiri belum tentu bagus, tau snediri lah, layaknya seorang seniman, membuat sesuatu yang indah, tapi bukan berarti dirinya juga harus terlihat indah juga kan? dan seorang ibu yang menjadi ibu rumah tangan yang amat sabar.
Sampai pada waktu nya sanga anak melanjudkan sekolah pertengahan semester. Dijanjikanya sebuah hadiah kepada sanga anak oleh bapak. yang di ketahui sang bapak tidaklah seorang yang kaya akan uang, tapi bukan itu yang di minta oleh sang anak.
Waktu berlalu sangatlah cepat, ujian semester yang di nantikan segera datang, bukan datang menghampiri sang anak tentunya. Tapi datang untuk di hadapkan kepada sebuah tantangan yang sesungguhnya, wajah santai yang penuh misterius teraut di wajahnya. hanya dia dan hatinya yang tau apakah yang sebenarnya sedang dia kerjakan.
Hal yang di nantikan sudah hampir tiba. Belum mendapat keputusan pun hadiah yang ingin bapaknya berikan sudah sampai ke tangan anak itu. Tidak tau hasil tidak mengetahui apa yang terjadi kedepannya. sang anak sudah asik dengan kegiatannya.
Tibalah waktu yang di nantikan, apapun yang terjadi harus lah di terima. Dengan sibuknya anak itu bermain, tidak ingin mengetahui hasil jerih payahnya selama ini. Ya ranking 1 lah yang di dapat. Heran? Senang? Sorak? Loncat? Tidak. dia tidak butuh dengan itu. Semua terasa seperti biasa saja.
Hari yang cerah datang kembali, dengan aktifitas yang sama kembali, tapi tidak denga ibu, tidak ingin sang anak melepaskan ranking nya kepada anak lain. Paksa dan terus memaksa dengan segala cara agar sang anak mau melakukan perintah sang ibu. Untuk apa? Ya tentu, tentu saja belaja.
Sangat terasa waktu berlalu, akhir semester pun di mulai. Dengan pikiran tegang penuh tekanan sang anak mendapat ujian yang seharusnya dia kerjakan dengan mudahnya.
Hanya hitungan detik, menit, jam, hari. Waktu berlalu, mana hasil jerih payah yang ddi lakukan dengan sebuah paksaan? Omong kosong dengan semua ini. hanya Air, ya Air yang bisa di paksa masuk dengan semua rintangan yang ada. Tapi manusia? Dengan paksaan bukan hal indah yang akan di dapat, kemurkaan hati yang tenang itu yang akan di panen, hanya sebuah cerita yang akan menenangkan jiwa yang haus akan kerinduan.
-Hanya satu tujuan yang di inginkan-
-Kedamaian sejati dalam hati pikiran perasaan jiwa raga-
No comments:
Post a Comment